Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/query.php on line 61

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/theme.php on line 1109
www.justisianto.com » GEREJA KATOLIK DI JAWA TIMUR (part one)

GEREJA KATOLIK DI JAWA TIMUR (part one)

  1. Arti kata ”Gereja Katolik”.
  2. Jumlah umat Katolik, di dunia, di Indonesia, Jawa Timur, Surabaya, Malang.
  3. Organisasi Gereja Katolik: Paus – Uskup – Pastor, KWI.
  4. Sejarah singkat Gereja Katolik di Indonesia.
  5. Inti sari Ajaran agama Katolik.
  6. Alamat gereja-gereja Katolik (besar-kecil) di Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang.

1. Arti kata ”Gereja” (dari kata Ecclesia = ex-call) adalah ”umat yang dipanggil oleh Allah dari ketercerai-beraian dosa yang egois, untuk berkumpul dalam persatuan Keluarga Allah yang saling mengasihi”. Dan ”katolik” (kata-holistik) berarti ”untuk umum”. Sebab Allah itu pencipta, pemelihara dan penguasa semua orang. DIA mencintai semua orang; tanpa membeda-bedakan orang. DIA memberi Nafas Hidup (Roh Kudus) yang sama kepada semua orang; menerbitkan matahari dan menurunkan hujan, baik untuk orang saleh maupun orang durhaka; dan memperlakukan mereka semua (mahluk-hamba-pendosa) seperti ”anak”-Nya sendiri. DIA adalah penyelamat semua orang dan menyediakan surga untuk semua orang.

2. Jumlah umat Katolik sedunia di bawah satu Paus ada ±1.181.368.942 atau 1,2 milyar (14% dari penduduk dunia yang 7 milyar). Umat kristen protestan ada 1 milyar (14%). Di Indonesia jumlah umat Katolik ada 7.380.000 atau 7,3 juta (3% penduduk Indonesia), dan jumlah umat kristen protestan ada 17.220.000 atau 17,2 Juta (7%). Di Jawa Timur ada ± 300.000 umat katolik. Di keuskupan Surabaya (Jawa Timur belahan Barat) ada ± 166.000. Di kota Surabaya ada 103.000. Di keuskupan Malang (Jawa Timur belahan Timur) ada ± 120.000. Di kota Malang ada ± 40.000 umat Katolik. Di Kabupaten Sidoarjo ± 15.500 orang (paroki Sidoarjo ± 6000, Juanda ± 3000, Tropodo ± 5800, dan Krian ± 700).

3. Organisasi Gereja Katolik:

Di pucuk pimpinan Gereja Katolik, ada Paus. Dia membawahi Uskup-uskup, yang membawahi pastor-pastor.

LIHAT FOTO PAUS, ISTANA PAUS, DAN GEREJA PAUS di part five

a. Paus adalah Kepala Tertinggi Gereja Katolik. Paus yang sekarang ini bernama Benediktus XVI. Dia berkebangsaan Jerman. Dia adalah Paus ke-265 sejak Petrus (tahun 33 M). Dia tinggal di kota Vatikan, yakni sebuah “negara” kecil di tengah kota Roma (ibukota Republik Italia). Vatikan itu seperti keraton Yogya di tengah kota Yogyakarta (bedanya, kota Roma itu lebih besar 15 kali Yogyakarta). Tentu saja Paus juga punya ”kabinet” yang disebut Konggregasi-konggregasi Suci. Selain itu juga punya Duta-duta Besar di negara-negara lain, yang disebut Nunsius Apostolik. Vatikan dibiayai oleh kolekte (pengumpulan uang) dari gereja-gereja seluruh dunia. Cara kirim surat: To His Holiness Pope Benedict XVI, in the Vatican City. (Ya singkat). Alamat Duta Besar Vatikan untuk Republik Indonesia: Kepada Yth. Nunsius Apostolik, Jl. Merdeka Timur 18, Jakarta 10110, Telp 021-3841142, 3819736, fax 021-3821143, E-mail vatjkt@cbn.net.id

b. Di bawah Paus ada Uskup-uskup. Mereka hanya taat kepada Paus. Mereka tidak taat kepada Uskup-Agung atau Kardinal atau KWI, atau siapa pun selain Paus. Sebagai pimpinan tunggal Uskup bisa disebut Waligereja. Kalau walikelas itu guru-kelas maka Waligereja itu Uskup. Pastor Kepala gereja paroki bukan waligereja, sebab dia bukan Uskup. Ada macam-macam Uskup: Uskup Agung adalah Uskup koordinator beberapa uskup dalam propinsi gerejani (yang terdiri atas 4-5 keuskupan). Kardinal adalah Uskup yang diberi oleh Paus, hak untuk memilih atau dipilih menjadi Paus. Uskup Agung dan Kardinal bukanlah atasan Uskup.

c. Keuskupan adalah nama wilayah kekuasaan Uskup di mana umat katolik ada di bawah pemeliharaan Uskup. Di Indonesia ada 36 keuskupan. Di Jawa Timur ada 2 keuskupan yaitu keuskupan Surabaya (Jawa Timur belahan Barat) dan keuskupan Malang (Jawa Timur belahan Timur, termasuk Madura). Wilayah keuskupan tidak persis sama dengan wilayah propinsi. Contohnya: umat katolik Cepu, Blora, Rembang yang ada di propinsi Jawa Tengah itu ada dalam pemeliharaan Uskup Surabaya (bukan Uskup Semarang). Pimpinan gereja katolik Keuskupan bukanlah Dewan KWI-keuskupan, melainkan Uskup seorang diri. Uskup Surabaya sekarang adalah Monsinyur Vincentius Sutikno Wisaksono. Alamat keuskupan Surabaya: Jl. Polisi Istimewa 17, Surabaya 60265, telp. 031-5677796, 5615592, Fax. 031-5684004. Sedangkan Uskup Malang sekarang, Monsinyur Herman Joseph Sahabat Pandojoputro O.Carm. Alamat keuskupan Malang: Jl. Guntur 2, Malang 65112, telp 0341-362524, Fax 323744. Cara menulis surat: Kepada Yth. Uskup, Kepala Gereja Katolik Keuskupan .., Jl. …

LIHAT FOTO USKUP SURABAYA DAN USKUP MALANG di part five

d KWI adalah konferensi waligereja Indonesia yaitu perkumpulan uskup-uskup seIndonesia. Waligereja adalah Uskup. Pastor Kepala bukan Waligereja, sebab bukan Uskup. Nama ”Konferensi” menunjukkan bah-wa KWI bukan organisasi tapi sidang Uskup-uskup Indonesia (36 orang) yang mempunyai ketua, sekretaris, seksi-seksi, dsb. Tujuan KWI adalah agar kegiatan gereja Katolik Indonesia bisa dikompakkan. Namun KWI bukanlah pimpinan gereja katolik Indonesia, bukan pimpinan dari uskup-uskup. Uskup boleh tidak taat pada KWI, sebab Uskup hanya taat pada Paus saja. KWI hanya ada di Jakarta saja. Maka di Surabaya atau di Malang tidak ada KWI. Alamat KWI: Sekretariat Jenderal KWI Jl. Cut Mutiah 10 Jakarta 10340.

e. Pastor (artinya = gembala, atau Romo = bapak, atau imam = pemimpin ibadat) adalah pembantu Uskup yang diserahi oleh Uskup, tanggung-jawab untuk memelihara umat katolik di Paroki (yaitu wilayah kekuasaan lebih kecil di mana iman umat katolik dipelihara oleh Pastor). Pimpinan gereja Paroki bukan sebuah Majelis, melainkan pastor kepala seorang diri. Dia bukan Waligereja, sebab Waligereja hanya Uskup saja. Pastor Kepala dibantu oleh pastor rekan dan Tim Kerja umat Katolik. Kalau di paroki ada DPP (Dewan Pastoral Paroki) dan BGKP (Badan Gereja Katolik Paroki) itu bukan pimpinan paroki yang punya wewenang direktif, melainkan Tim Kerja umat Katolik yang bersifat konsultatif dan kooperatif. Wilayah paroki tidak persis sama dengan wilayah kabupaten atau kecamatan. Contohnya: di kabupaten Sidoarjo ada 3 paroki: paroki Sidoarjo, paroki Juanda, paroki Tropodo, dan gereja Krian (di bawah paroki Mojokerto). Masing-masing punya pastor kepalanya sendiri-sendiri. Pastor kepala paroki Sidoarjo tidak berhak mewakili paroki-paroki lain tsb. Sebab tiap paroki itu semi-otonom yang diurus oleh Pastor Kepala Parokinya masing-masing dan hanya tunduk taat kepada Uskup (bukan kepada Pastor Kepala yang lain). Contoh lain, paroki Jombang membawahi umat Katolik di kabupaten Jombang; di Kertosono (kabupaten Nganjuk), dan Kabuh (kabupa-ten Lamongan). Pendidikan Pastor: Lulusan SMA (atau sudah bekerja), lalu mengikuti pendidikan 7-8 tahun di Seminari, yaitu 1 tahun Postulat, 1 tahun Tahun Rohani atau Novisiat, 4 tahun tingkat S-1, 1 tahun Praktek Pastoral, dan 2 tahun tingkat S-2. Sedang kan lulusan SMP mengikuti pendidikan 11 tahun. Setelah itu, dalam upacara meriah, dia ditahbiskan (bukan dibaptis) menjadi imam, dengan mengucapkan Tri Kaul (kaul taat-melarat-wadat atau tidak kawin).

4. Sejarah singkat Gereja Katolik di Indonesia.

a. Asal-usul penduduk asli Indonesia. Ada 2 perkiraan. Menurut perkiraan tradisional, mereka berasal dari Yunan (Cina) th 1000 seb.M. Tapi menurut perkiraan mutakhir, mereka itu dari Filipina Selatan yang bergerak ke Taiwan, baru kemudian th 4000 seb.M. ke Indonesia (Lihat “Menjadi Indonesia”, Pecetakan KOMPAS, 1995, hal.7).

b. Datangnya agama-agama: Sekitar th 400 M Agama Hindu dan Buddha lebih dulu datang dari Cina ke Indonesia. Lalu pada th 1500 seorang Cina beragama Islam bernama Raden Patah, menguasai Demak, lalu menaklukkan Majapahit (Jawa Timur) dan pada th 1527 bersama Sunan Gunung Jati menguasai Jawa Barat. Baru pada th 1550 (462 th yang lalu) agama Katolik dibawa oleh Fransiskus Xaverius (F.X.) orang Portugis, ke Maluku. Th 1638 Dionisius OCarm. (Perancis) dan Redemptus OCarm. (Portugal) masuk ke Sumatra Utara. Tapi tidak seperti sebelumnya (pendatang pertama membiarkan pendatang kedua masuk ke Sumatra Utara dengan damai), kali ini pendatang kedua tidak berkenan bahwa pendatang berikutnya seperti Dionisius dan Redemptus datang ke situ. Dionisius dan Redemptus menjadi martir di situ. Th 1602 VOC berdiri. VOC beragama kristen protestan dan menganut anti-klerikalisme (anti pastor katolik). Konsekuensinya, mereka memaksa umat Katolik di Ambon, Menado, Sangihe-Talaud dsb. beralih ke agama kristen protestan. Mengusir pastor katolik dan menggantinya dengan pendeta protestan. Melarang pastor katolik tinggal di wilayah VOC dengan ancaman hukuman mati. Th 1624 pastor Egidius d’Abreu SJ dihukum mati karena mempersembahkan Misa di sebuah penjara. Th 1799 VOC bangkrut. Th 1806 raja Louis Napoleon (seorang katolik) naik tahta di Nederland. Dia mengakui kebebasan agama di Nederland. Th 1806 dia memberi ijin kepada gereja Katolik untuk aktif lagi di mantan wilayah VOC. Th 1807 dua pastor katolik dari Belanda (pastor Jacobus Nelissen dan pastor Lambertus Prinsen) mulai datang dan berkarya lagi di Batavia.

d. Pahlawan-pahlawan Katolik: Umat Katolik adalah hamba Allah, yang menjauhi dan menjauhkan penjajahan, penindasan, pengkhianatan atau pemberontakan terhadap bangsa Indonesia. Sejak perang kemerdekaan (1945) sampai perang Irian Barat (1961), Gereja Katolik menyumbang pahlawan-pahlawan nasional yang ber-agama Katolik, misalnya: Ignatius Slamet Riyadi (1945, Komandan PETA kota SOLO), Agustinus Adisoetjipto (1947, penerbang pertama menerbangkan pesawat Cureng dengan tanda merah-putih, nama Bandara Yogyakarta), Yos Sudarso (1961), Uskup Albertus Soegijapranata (1963), dan ratusan pahlawan bekend (dikenal) dan onbekend (tak dikenal) lainnya yang menghiasi Taman Makam Pahlawan seluruh Indonesia dengan satu-dua salib. Selain itu, umat Katolik pun aktif dalam penggulingan Orde Lama (1965) dan Orde Baru (1998).. Kemudian masih ada pejabat Negara: dari PNS sampai Menteri dan Gubernur yang Katolik. Menteri Pertahanan (Purnomo Yusgi-antoro), Menteri Kesehatan (Dr. Nafsiah mBoi), Hakim Mahkamah Konstitusi (Prof Maria Farida Indrati). Prajurit rendah sampai Jenderal katolik (ada Kapolda, dulu juga ada Jenderal Beny Murdani sebagai Pangab, dsb.). Masih ada pejabat nasional di dunia Internasional. Dan ada juga pahlawan Olahraga (Chris John, petinju), pahlawan Olimpiade (Susi Susanti, bulutangkis). Pemenang Lomba-lomba Internasional.

e. Darma bhakti lain umat katolik bagi bangsa Indonesia berupa antara lain Sekolah Katolik. Sudah seharusnya umat Katolik sebagai hamba Allah mendidik anak-anak bangsa menjadi hamba-hamba Allah pula. Di Keuskupan Surabaya saja ada 170 TK-SD-SMP-SMA-STM-SMF, dan di Keuskupan Malang 80 sekolah (di antara mereka hanya 15 Sekolah Katolik yang dicap sekolah orang kaya, tapi 235 lainnya ada di pelosok kecamatan di Jawa Timur). Belum termasuk ratusan sekolah katolik di pelosok seluruh Indonesia. Lalu juga ada 13 Universitas Katolik. Yang besar, misalnya, Atmajaya Jakarta, Parahiyangan Bandung, Sanata Dharma Yogya, Widya Mandala Surabaya. Plus belasan Sekolah Tinggi Katolik, AkPer, AkBid. dsb. Koran KOMPAS pun ikut mendidik bangsa. Selain itu Rumah Sakit Katolik: 5 RSK besar, beberapa RSK kecil, puluhan Poliklinik Katolik. Ada pula RS Kusta. Pendidikan anak bisu-tuli di Wonosobo. Puluhan Panti Asuhan.

f. Semangat dasar dari darma-bhakti umat Katolik tsb. adalah seperti semboyan Uskup Soegijapranata (1896-1963 pahlawan nasional) yang menjadi semboyan umat katolik juga: “100% Katolik, 100% Indonesia!!”

5. Intisari Ajaran agama Katolik:

a. Allah: Hanya ada satu Allah saja, yang menurut agama Katolik, sama dengan Allah agama lain, sebab Dialah satu-satunya pencipta-penguasa-pemelihara langit dan bumi. Di dalam Allah ada paradox (dua sifat yang nampaknya bertentangan, tapi tidak begitu halnya, melainkan berpasangan). Misalnya, Allah itu sekaligus transendens (nun jauh di sana, berbeda total dari manusia, suci, dsb.) tapi juga immanens (tinggal dekat di sini dengan manusia). Allah berkenan memberi ”ada”-Nya, sifat-sifat-ilahi-Nya dan surga-Nya ke pada manusia. Dengan begitu, Allah ”menyatu” dengan manusia dan tinggal di hati mereka, baik sejak penciptaan pertama (menghembuskan Nafas Hidup) maupun ketika memperbaiki manusia dari kerusakan dosa Adam dan Hawa, mengembalikan Roh-Nya yang Kudus dalam hati manusia. Dan hanya berkat “persatuan” Allah-manusia tsb. manusia bisa jadi sungguh manusia. Namun Allah tetap pencipta yang suci, dan manusia tetap mahluk-hamba-hina-rapuh-pendosa. Tanpa “persatuan” Allah-manusia tsb., manusia tinggallah ”tanah-liat” tanpa daya, alias NOL. Sebenarnya paham ”Allah Tri Tunggal Mahakudus: Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus” mau meng-ungkapkan satu realitas tsb. Sama sekali bukan mau mengajarkan Allah itu tiga.

b. Manusia diciptakan oleh Allah dengan kasih-Nya (artinya dengan “persatuan” Allah-manusia dan dengan “korban Diri”-Nya). Pada awalnya manusia diciptakan dengan dihembusi Nafas Hidup (Roh Kudus) yang menjadikannya manusia, lalu menanaminya sifat-sifat Allah (walau cuma sepercik) serta menggarapnya menjadi Citra Allah (gambar dan rupa Allah, walau cuma sepercik). Semua manusia itu, walaupun mahluk-hamba-pendosa, tapi sama-sama dicintai Allah dan diperlakukan-Nya sebagai ”anak”-Nya. Atas dasar itu semua manusia sederajad dan sama mulianya. Bagi agama katolik, paham ”Bhineka Tunggal Ika” bukan hanya karena defakto suku-suku tinggal setanah-air, dan bangsa-bangsa tinggal di bumi yang sama, tapi terutama karena tiap orang sama-sama Citra Allah, artinya, di dalam dirinya, tiap orang sama-sama punya Roh Kudus, sifat-sifat Allah, kasih Allah dsb. Selanjutnya agama katolik percaya adanya santo-santa (orang-orang kudus). Ini menyatakan bahwa Allah kita bukanlah Allah yang gagal, tapi Allah yang sukses dalam mewujudkan cita-cita-Nyaà membuat manusia Kekasih-Allah, Citra Allah dan Keluarga Allah. Maka mayoritas penduduk bumi ini sudah seperti itu, Citra Allah, punya sifat-sifat Allah, kasih, setia, kuat dsb. (walaupun tetap berlaku ”hukum proses”). Kalau tidak mengakui kenyataan tsb., berarti, kita berpendapat Dia itu Tuhan yang gagal (yang bisanya, selalu menimpakan kesalahan pada manusia melulu).

c. Dosa manusia dan Karya Keselamatan: Setelah masa ”Taman Firdaus”; Adam, Hawa dan bangsa manusia jatuh ke dalam dosa. Dosa bukan sekedar melanggar perintah dan larangan Tuhan, dan membuat Tuhan tidak berkenan dan marah. Dosa pertama-tama berarti menolak Allah, menolak kehadiran Roh Allah di dalam diri. Dosa berarti kehi-langan status Kekasih Allah, kehilangan Citra Allah beserta sifat-sifat ilahi di dalam diri, dan merusak Keluarga Allah (bangsa manusia). Karena telah mengusir Allah (Roh Ku-dus) maka manusia (ibaratnya) kembali jadi debu-tanah (tanah-liat) lagi, alias ”hidup dalam daging”, ”hancur lebur”, tercerai-berai, tidak ”berupa” manusia lagi. Dalam keada-an hancur lebur (lumpuh rohani, buta-bisu-tuli rohani) seperti itu, tak mungkin manusia berbuat sesuatu. Doa dan amal tidak bisa. Apalagi memperbaiki diri kembali menjadi manusia Citra Allah, mustahil. Hanya Allah saja bisa membuatnya. Maka karena kasih-Nya begitu besar, Allah melancarkan SAR (search and rescue, atau Karya Keselamatan) untuk semua manusia tanpa kecuali. Dia mempertaruhkan segala-milik bahkan Diri-Nya sendiri. Mendatangi umat-Nya, mengembalikan ”persatuan” Allah-manusia tsb. dan mencurahkan Roh Kudus, agar manusia pulih jadi manusia-Citra-Allah lagi dan bersatu menjadi Keluarga-Allah lagi. Manusia yang lumpuh rohani hanya perlu menyerah kepada Tuhan, terbuka kepada-Nya, biar Dia datang, Roh Kudus hadir dalam dirinya, menanami lagi sifat-sifat ilahi. Tidak mencabuti yang ditanam-Nya, menyediakan kerjasama yang baik, tidak melakukan kejahatan tapi kebaikan-kebaikan. Bertobat berarti kembali rukun dengan Allah dan Keluarga Allah. Namun ada yang proses-pulihnya iman cepat dan ada pula yang sangat lambat (masih jatuh bangun dan berkubang dalam dosa). Maka manusia tidak boleh dipandang secara hitam-putih (aku suci masuk surga, dan kamu dosa masuk neraka) tapi semua adalah sesama saudara (satu “Bapa”) dan teman seperjalanan yang simul iustus et peccator (serentak orang ”benar” dan pendosa) yang bahu-membahu berjuang jatuh-bangun (dosa-bertobat) untuk menjadi makin suci sampai masuk surga (kecuali orang yang sampai detik terakhir nekat menolak Tuhan).

d. Misi (tugas) umat katolik bukan kristenisasi. Tapi pertama, mewartakan Karya Keselamatan Allah tsb. (yaitu ” Kabar Sukacita” bahwa Allah mempertaruhkan segala-milik-Nya bahkan Diri-Nya sendiri, lalu datang “menyatu” dengan manusia, dan memperbaiki-nya). Misi kedua menjaga-memelihara-memupuk dalam diri sendiri maupun orang lain: sifat-sifat ilahi, watak Citra Allah, dan sifat ”anak” Allah (yang merupakan hasil penciptaan dulu dan hasil karya pemulihan kemudian) agar jangan sampai kembali rusak: menjadi egois, pembenci dan jahat lagi. Intisari semua sifat-watak-status yang harus dijaga-dipelihara-dipupuk dalam hati manusia tsb. adalah Kasih atau Salib. Kasih berarti ”membahagiakan orang lain dengan mengorbankan diri” atau ”mengorbankan diri demi kebahagiaan orang lain”. Dan Salib berarti ”korban diri sehabis-habisnya sampai mati demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia”. Kasih atau salib tsb. sudah ada dalam hati tiap orang tanpa kecuali (itu adalah hasil karya Allah sendiri sejak penciptaan, dan hasil karya pemulihan-Nya). Umat katolik dan semua orang diundang dan diajak oleh Tuhan untuk ikut menjaga-memelihara-memupuknya. Tuhan sendiri sang Sumber Kasih menjadi auctor principalis (pemrakarsa dan pelaku utama) nya. Mengapa harus dijaga-dipelihara-dipupuk?? Karena itulah intisari kehidupan, Alfa dan Omega (A dan Z), awal dan akhir. start dan finish kehidupan manusia.

e. Ibadat agama katolik disebut Misa (artinya, diutus, atau Ekaristi artinya, pesta syukur). Misa dilaksanakan tiap Minggu untuk mensyukuri Kasih Allah yang begitu besar sampai mau mempertaruhkan segala-milik-Nya bahkan Diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan manusia. Namun Ucapan Syukur barulah bisa disebut sejati dan tulus kalau kehidupan umat Allah sendiri sehari-hari juga berupa ”korban diri sehabis-habisnya sampai mati demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia”. Kalau tidak, itu Syukur bohong.

6. Alamat gereja-gereja Katolik (besar-kecil) di Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Malang … Lihat Part Two.

Sidoarjo 1 Januari 2013

Romo B. JUSTISIANTO


Parse error: syntax error, unexpected T_ENDIF in /home/justisia/public_html/wp-content/themes/christian-sun/comments.php on line 35