Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/query.php on line 61

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/theme.php on line 1109
www.justisianto.com » Nabi Isa AS turun ke dunia pada akhir jaman

Nabi Isa AS turun ke dunia pada akhir jaman

Di penghujung zaman, Isa Alaihissalam putra Maryam akan turun ke bumi, pada sebuah menara putih di kota Damaskus bagian timur, Suriah, pada waktu subuh. Beliau akan antara lain (1) menjadi hakim yang adil dan (2) mempersatukan manusia dalam satu agama, sehingga tak ada lagi agama selain Islam. (3) Dunia akan menjadi aman dan tenteram, sampai-sampai macan bisa berdampingan dengan unta.


Seminar

“Hadis Turunnya Isa A.s.

dan Kebangkitan Islam”

1. Tempat Seminar : Aula IAIN Jakarta.

2. Waktu : Kamis, 8 Juni 1995.

3. Tujuan Seminar : Mengkaji perspektif Isa semata dalam pandangan Islam (Ilham Khairi), memperteguh akidah, tanpa menghilang-kan rasa toleransi (Dr. Said Agil Munnawar).

4. Ketua Seminar : Ilham Khairi.

5. Hadir : Dr. Said Agil Munnawar (Ketua Jurusan Tafsir Hadis IAIN Jakarta), Ali Mustofa Ya’qub (Ahli Metodologi Hadis), Zainun Kamal MA (Dosen IAIN Jakarta), dan 350 peserta.

6. Laporan oleh : Majalah GATRA, 17 Juni 1995.

7. KISAH : Di penghujung zaman, Isa Alaihissalam putra Maryam akan turun ke bumi, pada sebuah menara putih di kota Damaskus bagian timur, Suriah, pada waktu subuh. Beliau antara lain akan (1) menjadi hakim yang adil dan (2) mempersatukan manusia dalam satu agama, sehingga tak ada lagi agama selain Islam. (3) Dunia akan menjadi aman dan tenteram, sampai-sampai macan bisa berdampingan dengan unta.

8. AL QUR’AN : Tidak pernah memberitakan hal itu.

9. Sumber lain : Ada lebih dari 60 hadis yang berkaitan dengan turunnya Isa Alaihissalam. Daripadanya ada 28 yang diriwayatkan oleh sahabat-sahabat Nabi yang dipercaya. Imam Buchari, Muslim, Abu Daud.

10. Yang PRO : “Hadis-hadis yang banyak bermakna hampir sama itu diriwayatkan oleh 28 sahabat Nabi yang dipercaya. Yang menguatkan dan mengatrol hadis yang lemah adalah antara lain hadis Imam Buchari, Muslim, perawi hadis yang dianggap terpercaya, dan Abu Daud”, kata Ali Abubakar Basalamah M.A. (alumnus Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

11. Yang KONTRA : a. Umar Shahab M.A. (Yayasan Wakaf Paramadina) : “Hadis-hadis yang ditulis oleh para periwayat hadis, baik yang Syiah maupun

Ahlu Sunnah itu, merespon terhadap janji Allah (Surat Al Taubah 33), bahwa bumi kelak akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang saleh. Para sahabat Nabi bertanya : Siapakah hamba-Nya yang saleh itu? Maka lahirlah hadis tentang tokoh-tokoh, baik Isa Alaihissalam maupun Imam Mahdi yang digambarkan sebagai seorang penegak kebenaran menjelang akhir jaman. Hadis-hadis tentang Mahdi lebih mutawatir (sangat diyakini benar) ketimbang yang tentang Isa. Mempercayai munculnya al-Mahdi wajib hukumnya, seperti diterapkan oleh ulama suni”.

b. Tidak semua hadis tersebut sahih. Ada juga yang lemah. Mayoritas hadis-hadis mengenai turunnya Isa berpredikat ahad (tidak memenuhi syarat mutawatir, sangat diyakini benar). Beberapa ulama pernah menolak cerita turunnya (kembali) Nabi Isa dan Mahdi yang dianggap bersumber pada hadis Nabi.

Catatan : “Tidak semua” hadis, mayoritashadis-hadis mengenai turunnya Isa, dan beberapaulama, tidak disertai statistik. Berapa hadis dan berapa ulama persisnya? Berapa prosen dari hadis-hadis dan dari ulama-ulama?

c. Ibnu Khaldun (sejarawan Islam abad 14-15) : Beberapa perawi hadis Isa Alaihissalam dan Imam Mahdi itu mengandung cacat. Munculnya hadis tentang Mahdi itu lebih merupakan upaya memperkuat fanatisme golongan. Misalnya, golongan Syi’ah yang secara politis selalu tertekan. Maka oleh pimpinannya, semangat messianistis selalu dihidup-hidupkan.

Para ahli hadis mengkritik balik : “Ibnu Khaldun itu bukan ahli hadis, maka tidak pada tempatnya berbicara kesahihan hadis-hadis tersebut”.

Nasiruddin Al Albani (ahli hadis Universitas Kairo-Mesir) : “Ada beberapa hadis sahih tentang Imam Mahdi yang perawinya sama sekali bukan pengikut Syi’ah”.

d. Syech Rasyid Ridha (murid Syech Muhammad Abduh, abad ini) mengemukakan kritik serupa. Terutama terhadap hadis-hadis tentang Imam Mahdi, yang diriwayatkan oleh kalangan Syi’ah.

e. Zainun Kamal M.A. (dosen filsafat IAIN Jakarta, alumnus Universitas Kairo) : Tidak menolak 100%, dan tidak menerima 100%. Jika dilihat dari sanan (silsilah perawi) beberapa hadis tentang turunnya Isa dan Imam Mahdi memang sahih. Tetapi jika dilihat dari segi teks, makna hadis-hadis itu tak logis. Menurut Qur’an, orang sudah mati tidak bisa hidup lagi. Dan Nabi Isa sebagai manusia biasa, sudah mati, bahkan tulang-tulangnya sudah hancur. Bagaimana mungkin ia bisa turun ke bumi ? Ada 2 jalan untuk menanggapi hadis-hadis tersebut. Jalan pertama, di-tawakuf-kan (= tidak usah dipersoalkan lagi). Kedua, jika hadis itu diterima kebenaran nya, tidak mesti diterima secara tekstual, sebab maknanya tidak sesuai dengan kandungan Al Qur’an dan akal sehat. Misalnya tentang Isa Alaihis-salam yang akan turun di sebuah menara putih di Damaskus. Padahal menara itu sudah tidak ada, sebab didirikan pada masa Umawiyah (hampir seabad setelah wafat Nabi Muhammad SAW). Kita harus memahaminya secara metaforis.

12. CATATAN (bukan dari Majalah GATRA) :

-1- Setelah Nabi Muhammad SAW, maka menjelang akhir jaman datanglah Imam Mahdi, seorang penegak kebenaran. Tetapi kemudian, yang paling akhir dari yang terakhir, di penghujung zaman, datanglah Nabi Isa Alaihissalam :

a. Di penghujung zaman itu, Nabi Isa A.s. akan menjadi Hakim yang adil atas orang-orang yang hidup dan yang mati”.

b. Dia akan menuntaskan karya yang belum kunjung selesai, yaitu, antara lain mempersatukan manusia dalam satu agama, sehingga tidak ada lagi agama selain “Taat-tunduk kepada Allah Yang MahaEsa (= islam). Kalau Nabi Muhammad SAW meng-islam-kan manusia “secara Muhammad”, maka Nabi Isa a.s. meng-islam-kan manusia secara Isa pula. Dan bukan Nabi Muhammad SAW tapi hanya Nabi Isa a.s. adalah “nabi terakhir” yang mampu merampungkan peng-islam-an total seluruh dunia.

c. Nabi Isa akan membawa kedamaian dan ketenteraman final bagi Dunia, sampai-sampai macan bisa hidup berdampingan dengan unta.

-2- Mempercayai munculnya al-Mahdi adalah wajib hukumnya, seperti diterapkan oleh ulama suni.

Tetapi yang lebih wajib hukumnya dan paling wajib hukumnya adalah ini : Mengimani bahwa setelah berulang kali umat Allah dipimpin oleh sesamanya manusia dan berulang-kali pula mereka disengsarakan oleh pimpinannya yang manusia itu, akhirnya Allah berjanji akan datang sendiri merajai, dan memimpin sendiri umatNya. Allah adalah satu-satunya Raja kita yang paling asli. DIA akan datang dan memboyong sendiri umat-Nya ke surga. Target-Nya adalah ini : membahagiakan semua manusia ciptaan-Nya itu (tanpa kecuali) di surga. Allah tidak mau KaryaNya gagal. Artinya, tidak mau bahwa siapapun (entah iblis, entah dosa, entah kelemahan manusia) menang atas Diri-Nya lalu mengacaukan karya-Nya dan membatalkan target-Nya. Demi cinta-Nya dan demi kebahagiaan umat manusia kekasih-Nya itu, DIA bertekad, harus menang atas iblis, atas dosa dan kelemahan manusia. Harus berhasil membawa semua manusia tanpa kecuali, ke rumah-Nya, Surga. Maka supaya tercapai target tersebut, dipertaruhkan-Nya segala-galanya yang dipunyai-Nya termasuk Diri-Nya sendiri. Dan diusahakan-Nya “mati-matian” agar berhasil 100%.

-3- Seberapa tebalkah kepercayaan kita kepada para perawi hadis, baik perawi 60 hadis yang berkaitan dengan turunnya Isa Alaihissalam itu pada umumnya, maupun 28 sahabat Nabi (khususnya Imam Buchari, Muslim, dan Abu Daud) perawi-perawi hadis yang terpercaya itu?

a. Kita harus menentukan sikap tegas : Kita mempercayai para perawi itu ataukah tidak? Artinya, kita tegaskan penilaian kita: Apa mereka itu saleh - bijaksana - bisa dipercaya; ataukah pendosa - bodoh - pembohong?

b. Lebih-lebih kita harus menentukan sikap tegas : Apakah kita sendiri lebih saleh-bijak-bisa-dipercaya daripada para perawi itu (khususnya Imam Buchari, Muslim, dan Abu

Daud)? Apakah kita ini sedemikian lebih saleh-bijak-bisa-dipercaya daripada mereka, sehingga boleh mengatakan : “Para perawi itu tidak logis, dan tidak sesuai dengan akal sehat, sehingga tidak memenuhi syarat mutawatir, sebaiknya di-tawakuf-kan saja, dsb.”?

c. Ketegasan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut atau ketegasan sikap kita itu, akan membawa kita kepada keputusan : Apakah kita menerima seluruh hadis-nya atau membuang semuanya? Kalau tidak mempercayai perawinya, maka tegas kita juga tidak mempercayai hadisnya. Seluruhnya. Tak ada sepatah kata atau seuntai kalimat atau satu ayatpun dari hadis dari perawi yang kita hakimi sebagai pendosa-bodoh-pembohong itu, bisa kita terima. Juga kalau kita menyatakan diri kita lebih saleh-bijak-bisa-dipercaya daripada Imam Buchari, Muslim dan Abu Daud maka kita punya wewenang membuang mereka beserta seluruh hadisnya. Namun sebaliknya kalau kita mengakui bahwa mereka itu jauh lebih saleh-bijak-bisa-dipercaya daripada kita, sebab mereka bisa merawi hadis dan mempunyai jutaan pengikut, maka kita harus menerima seluruh isi hadisnya, tanpa secara angkuh kita pilih-pilih.

-4- Hadis adalah pengalaman “hidup rohani” para perawi-nya :

a. Memang bukan hanya dengan otaknya atau inderanya semata, para perawi hadis itu ber-Iman, tetapi lebih-lebih dengan roh dan batinnya. Maka ”perjumpaan” mereka dengan “Yang ilahi” yang serba “maha” itu, dicobanya sebisa-bisanya diungkapkan menurut keadaan diri mereka yang manusiawi, dan melalui bahasa manusiawi yang serba terbatas ini. Maksudnya, mau membantu sesama agar juga bisa ”berjumpa” dengan “Yang ilahi” itu. Sebab hanya dengan ”perjumpaan pribadi” dengan “Yang ilahi” sajalah maka kehidupan manusia bisa diubah.

b. Tetapi tidak mudah mem-bahasa-kan alam ilahi serta menerjemahkan “bahasa” ilahinya ke dalam alam dan bahasa manusiawi. Bagaimana mem-bahasa-manusiawi-kan bahwa (1) orang yang sudah mati masih tetap hidup? Bahwa (2) Allah kita adalah Allah baik dari orang hidup maupun orang mati. Bahwa (3) “Yang iIlahi” dapat sungguh-sungguh turun ke dunia (bukan cuma metafor belaka). Bahasa mana yang mampu memuat kebenaran ilahi yang serba “maha” itu lalu memaparkannya secara gamblang kepada kita? Andaipun bahasa manusia mampu, tapi apa otak manusia sendiri mampu mengerti-Nya? Baik bahasa manusia, kitab suci, maupun otak manusia itu bak timba-mini yang tidak mungkin mampu mewadahi samudera raksasa kebenaran ilahi.

c. Oleh karena itu untuk mengerti makna hadis itu, para pembaca diharapkan jangan hanya memakai otak dan inderanya saja. Tetapi lebih-lebih pakailah roh dan batinmu. Kalau hanya dengan otak dan indera saja maka kita akan jadi tekebur, mengira mengerti total, padahal tidak mengerti apa-apa, lalu melecehkan hadis sebagai tidak logis atau tidak sesuai dengan akal sehat, bahkan memvonnisnya sebagai tidak sesuai dengan Al Qur’an. Tetapi sediakanlah terlebih dahulu hidup-rohani yang mendalam beserta kerendahan-hati (humility, humbleness). Hanya dengan demikian, kita siap menerima anugerah ilahi gratis (yang tidak mungkin kita ambil sendiri), yakni makna hadis yang lebih dalam dan lebih luas.


Parse error: syntax error, unexpected T_ENDIF in /home/justisia/public_html/wp-content/themes/christian-sun/comments.php on line 35