Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/cache.php on line 103

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/query.php on line 61

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/justisia/public_html/wp-includes/theme.php on line 1109
www.justisianto.com » Epistemologi

Epistemologi

Epistemologi berarti ilmu yang menyelidiki pengertian beserta seluk-beluknya. Apa itu “mengerti sesuatu” atau “tahu sesuatu”? Siapa “agen” yang mengerti sesuatu? Bagaimana hubungan subjek yang mengerti dan objek yang dimengerti?

FILSAFAT EPISTEMOLOGI

B. Justisianto Pr., Lic.Phil

1. ARTI EPISTEMOLOGI.

a. Istilah Epistemologi berasal dari bahasa Yunani. Episteme = pengertian (pengetahuan). Logos = ilmu. Dalam arti luas Epistemologi berarti ilmu yang menyelidiki pengertian beserta seluk-beluknya. Apa itu “mengerti sesuatu” atau “tahu sesuatu”? Namanya yang lain adalah Kriteriologi (krino = memilah-milah atau menghakimi), artinya, test atas pengertian untuk membedakan pengertian mana yang benar dan yang salah, sungguh dan bohong, asli dan palsu. Ada juga nama lain: kritik atas pengertian dan gnoseologi. Kritik atas pengertian berasal dari aliran Kant dan masih sering dipakai dalam filsafat modern. Sedang gnoseologi banyak dipakai di Eropa. Di antara cerdik cendekia, nama-nama tersebut dipakai untuk menyebut ilmu mengenai pengertian tertentu yang benar.

b. Dapat dibilang, Epistemologi di jaman sekarang merupakan daerah penyelidikan filsafat yang masih paling baru, juga paling seru diperdebatkan, dan yang paling belum tuntas dan belum memuaskan. Tak ada kesepakatan mengenai nama dan apa persis permasalahannya. Beberapa filsuf ternama meng anggapnya sebagai intisari hasil peras-an semua disiplin ilmu pengetahuan. Intisari ilmu-ilmu tidak muncul baik dari tuntutan mencari kebenaran maupun dari kelemahan pikiran orang menangkap sesuatu, melain kan dari kebutuhan mereaksi teori-teori mengenai apa itu pengetahuan yang palsu dan menyesatkan. Pokok pembicaraannya nampaknya mengenai berikut ini: bahwa kenyataan yang utuh tak perlu dikritisi atau diragukan. Kebenaran yang utuh lengkap gamblang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi (evidence). Namun demikian fakta lain tetap ada: selalu masih ada saja pertanyaan yang minta penjelasan, bahkan ada saja problem yang dikemukakan secara sangat kritis. Inilah malahan yang meneguhkan peran khas Epistemologi di tengah-tengah filsafat sistematis lain. Fakta bahwa Epistemologi berkibar di jaman moden ini, dan sedikit sekali diperbincangkan oleh ahli-ahli pikir kuno dan ahli pikir abad-pertengahan, itu semua tidak menghabiskan kebutuhan untuk memecahkan masalah dan kritik sehubungan dengan apa itu pengertian / pengetahuan.

2. ASAL USULNYA DARI ABAD PERTENGAHAN DAN YUNANI.

a. Sejak manusia punya pertanyaan mengenai pengetahuan (apa itu mengetahui) dan selalu memasalahkan mana yang sungguh benar dan mana yang bohong, Epistemologi mempunyai sejarah panjang. Sebelum jaman keemasan filsafat Yunani (Sokrates 470 seb.M., Plato 430 seb.M., Aristoteles 400 seb.M.) sudah menjadi koderat manusia lebih tertarik pada masalah hakekat dan substansi, daripada masalah pengertian-pengetahuan; lebih pada inti kebenaran, daripada alat dan cara mencapainya. Padahal kesukaran dalam menyelami atau menembus inti rahasia koderat alam memunculkan masalah interpretasi dan penyimpulan. Akibatnya, kekompleksan sistem-sistem kosmologi membuat sikap acuh-tak-acuh kaum sofis (= orang-orang yang berlagak filsafat dengan ucapan-ucapan yang tidak jelas juntrungannya) makin menjadi-jadi. Jangankan menghiraukan alat dan cara mencapai kebenaran, kebenaran sejatipun tidak terlalu dihiraukan orang yang suka membual dan mamainkan kata-kata muluk untuk memenangkan pembicaraan. Banyaknya kesalahan dan salah-paham dijadikan alasan bagi orang yang skeptis (=acuh-tak-acuh) untuk mengklaim bahwa mustahillah mencapai kebenaran sejati. Sudah susah-susah mengkritisi alat dan cara mencapai kebenaran, jatuhnya gak benar juga yang didapat. Untuk mereaksi skeptisisme awal ini perlu ditampilkan pendapat-pendapat pendiri filsafat kuno, dan dari situlah nanti diketemukan asal-usul epistemologi yang paling asli. Khususnya Aristoteles memulai dengan suatu ajaran yang sekarang dikenal sebagai tradisi epistemologi utama, seperti mengenai pengertian normal pada umumnya namun lebih diperdalam lagi. Idee utama Aristoteles adalah mencoba mengenal perbedaan antara menangkap dengan “indera” dan mengerti secara “intelektual”; dia mau mencari dasar pengertian abstrak mengenai bagaimana kegiatan intelek terhadap data-data inderawi yang 100% tergantung pengalaman; menolak innatisme (= konsep-konsep bawaan sejak lahir, bukan dipetik dari pengalaman); memberi garis besar teori peng-abstraksi-an; dan secara umum, membuat konsep umum-lengkap-kompleks mengenai ajaran realisme moderat, di mana kemoderatan ajaran mengenai kebenaran alam semesta memungkinkan adanya filsafat dan ilmu. Kemoderatan itu adalah lawan dari kemutlakan ajaran bahwa alam semesta tidak dapat diselami. Pandangan Aristoteles membuka jalan terbentuknya teori mengenai kebenaran dan kesalahan, dan mengakui bahwa pikiran manusia mampu membeda-bedakan banyak hal.

b. Sesudah Aristoteles, mulailah kecenderungan orang kepada materialisme (aliran Epikurean dan Stoa) yang didukung oleh skeptisisme yang acuh-tak-acuh terhadap pernik-penik hal-hal yang abstrak. Kecenderungan baru ini bertahan sampai jaman Augustinus (400 M) yang mulai menekankan illuminasi (pencerahan dari “luar” yaitu wahyu ilahi) dan kecenderungan kepada arah sebaliknya yaitu intelektualisme radikal (Neoplatonisme). Pandangan Augustinus sangat mem-pengaruhi abad pertengahan (1100-1400 M), tetapi selanjutnya ditentang selama periode skolastik lanjut (skolastik = sistem filsafat yang diajarkan di universitas pada abad pertengahan, berdasarkan ajaran agama), yaitu pada waktu karya Aristoteles “diketemukan” lagi dan diterima luas di Barat. Perkembangan aliran Aristoteles mencapai puncaknya dalam karya Thomas Aquinas (1250) dan realisme Duns Scotus.

c. Sesudah jaman keemasan skolastisisme berlalu, selanjutnya aliran Aristoteles membuka jalan lebar untuk nominalisme (=menekankan sebutan atau namanya, mengabaikan teori-teroinya) dan kembali ke materialisme (lawannya intelektualisme).

3. PERKEMBANGAN EPISTEMOLOGI MODERN.

a. Arus anti-intelektualisme dibalik oleh René Descartes (rené dèkar, 1600), yang memulai arus-balik untuk memulihkan hak-hak intelek. Dengan demikian Descartes menjadi bapak filsafat modern. Walaupun dia ahli matematika, namun paham epistemologinya miskin, justru karena mau mengetrapkan metodologi matematika di segala bidang. Ilmu psikologinya yang kacau memerosotkan epistemologinya karena penuh dengan asumsi-asumi yang membuat ilmu mengenai “pengertian” itu sangat membosankan. Descartes menolak peran indera; dia menghidupkan kembali pendapat Plato mengenai idea innata (konsep bawaan sejak lahir, bukan dari pengalaman hidup); dialah yang menyebar-luaskan konsep representasi dalam “mengerti sesuatu” (konsep yang dianggap sebagai pendapat skolastik, walaupun tidak dikembangkannya, yaitu bahwa pengertian mengenai suatu hal itu hanyalah -representasi- menghadirkan sesuatu lain yang abadi yang sudah ada sebelumnya). Usul Descartes paling baik; dia bermaksud menjadi sekaligus realis (benda-benda) dan juga mau membela posisi primer akal-budi. Namun pandangan-pandangannya malah dari satu pihak justru menuntun orang kepada idealisme dan skeptisisme, dan dari lain pihak sukses memupuk dualisme antara pikiran dan materi, yang sampai sekarang masih membingungkan para pemikir modern.

b. Mulai Descartes sampai akhir abad 18 (1790), Epistemologi merosot. Baru selanjutnya Immanuel Kant (1724-1804) memulai lagi revolusi filsafat yang menawarkan dibuangnya asumsi-asumsi yang tak punya dasar alasan lalu mulai mengutak-atik pengertian (pengetahuan). Kant, walaupun filsafatnya tetap memakai intelek untuk menerobos benda-benda dan sangat metodologis, dengan kerja yang tekun, dan niat yang kuat, namun dia tidak sukses; karena dia itu sangat cerdas dan sekaligus juga mengabaikan tradisi epistemologi yang panjang yang sudah ada sebelumnya. Tanpa mau tahu fakta bahwa pengertian intelektual manusia itu abstrak (fakta ini telah memaksa Aristoteles dan Thomas Aquinas mengakui kemampuan pengabstrakan intelek manusia) Kant tidak melihat alternatif: kalau bukan idea innata (Plato dan Descartes, yang ditolaknya), ya teorinya sendiri mengenai intelek (bahwa intelek menangkap informasi data inderawi tetapi sekaligus menentukan sendiri bentuk tertentu atas data inderawi yang diterima). Bagi Kant, pikiran itu berperan aktif membuat benda-benda bisa dimengerti; pikiran memberi sifat “bisa dimengerti” pada benda-benda; sedangkan kebenaran / kenyataan itu dari dirinya sendiri (tanpa sentuhan pikiran manusia) tidak bisa dimengerti. Dalam pandangan Kant, Metafisik (=mengakui adanya sesuatu di balik fisik) menjadi mustahil. Akibatnya, pengertian berakhir dengan menjadi subjektivisme (= hanya menghiraukan apa yang tergambar di pikiranku, tetapi mengabaikan obyek sebagai sumber gambar tersebut) dan sekaligus menjadi agnostisisme (= aliran yang berpendapat bahwa kita tidak bisa tahu apa-apa mengenai hal-hal yang non-materiil). Mengantisipasi akan jadi apa nanti teorinya, Kant mengembangkan pendapatnya mengenai intelek praktis (yang secara a priori dan transendental menangkap sesuatu dari data inderawi dan menyimpulkannya) dan buah pikirannya itu mempersiapkan jalan untuk voluntarisme (= kehendak kita sangat berperan menentukan adanya sesuatu; yang kita kehendaki itulah yang tampil dalam pengertian kita) dan pragmatisme (= hanya menggarap apa yang ada di hadapannya saja). Paham idealisme (yang mementingkan idee subjektif dari pada benda objektif yang coba dimengerti) yang beredar pada jaman itu dan masuk dalam epistemologi juga berasal dari Kant. Kutub lawannya adalah garis pikiran David Hume yang ikut mengembangkan ilmu-ilmu alam dan tampil dalam pelbagai bentuk, seperti empirisisme (= mementingkan yang bisa diamati, bukan yang diduga), positivisme (= yang bisa dilihat dan dibuktikan, bukan yang dipikirkan), scientivisme (= yang mementingkan syarat-syarat ilmu, yaitu harus ada data, bukti, saksi, yang teruji), utilitarianisme (= yang langsung bisa dimanfaatkan, bukan yang diteorikan), dan instrumentalisme (= yang langsung bisa dipakai untuk mencapai tujuan).

4. PERMASALAHAN EPISTEMOLOGI.

a. Buku-buku Epistemologi yang ditulis 50 tahun silam, saling mengkritik dan menyalahkan satu sama lain, menawarkan pendekatan masalah secara sangat berbeda-beda, bahkan tidak berhasil menyepakati problem dasarnya. Menyepakati “masalahnya apa”, itu saja gak ketemu. Banyak alasan mengapa tidak ada kesepakatan, antara lain mau memerangi subyektivisme dan skeptisisme. Descartes, Kant, dan Hume ikut menyumbang kekisruhan ini. Sikap defensif dan negativisme (= saling menyangkal) menjadi ciri pengembangan epistemologi dalam tradisi skolastik. Namun sesungguhnya epistemologi bukanlah penyelidikan negatif (mengatakan bukan ini dan bukan itu) melainkan pencarian positif mengenai pengertian (pengetahuan). Daripada defensif, epistemologi seharusnya menekankan misinya menyelidiki dan mencari pengertian (pengetahuan) yang dipandang dari koderat serta peran rasio dalam kehidupan manusia.

b. Meskipun Aristoteles maupun Thomas Aquinas tidak menulis buku khusus mengenai epistemologi, keduanya secara konsisten membuat kritik yang disusun secara positif dan ilmiah atas pengertian (pengetahuan) dalam karya-karya filsafat mereka. Karena kritik mereka atas pengertian itu terselip di dalam karya-karya filsafat mereka, diperlukan upaya khusus untuk menemukan dan memunculkan pandangan epistemologi mereka.

c. Thomas Aquinas dengan metode Aristoteles, menunjukkan bahwa dalam penyelidikan ilmiah yang pas atas apapun juga, kita perlu menanyakan empat hal. (1) Apakah benda ini sungguh ada? (2) Benda ini sebenarnya apa? (3) Unsur-unsurnya apa? (4) Mengapa unsurnya begitu itu? Pertanyaan pertama-kedua mempersoalkan hakekat dan keberadaannya. Pertanyaan ketiga-keempat mempersoalkan seluk-beluk dan tètèk-bengèk-nya. Sering, pertanyaan pertama tidak tampil, sebab keberadaan benda itu terlalu jelas teraba-terasa-terlihat oleh indera atau tertangkap oleh intelek. Dalam hal ini jawaban atas tiga pertanyaan lainnya dalam bentuk rangkaian demonstrasi (pameran) membentuk ilmu mengenai suatu objek khusus. Jelaslah, kegiatan pengertian meluas dan selanjutnya menumbuhkan sangat banyak pertanyaan berikutnya. Jelas pula, kekurang-sempurnaan intelek manusia atau kesukaran yang terkandung dalam benda yang sedang diselidiki membuat pencarian dan penjelajahan menjadi sukar atau malah mustahil. Namun fakta dasar ini tetap ada: empat pertanyaan tersebut bisa dipakai untuk segala jenis penelitian.

d. Metodologi dasar tersebut dapat juga diterapkan pada epistemologi: (1) Apa pengertian-pengetahuan sungguh ada? (2) Apa definisi pengertian? (3) Apa isi kegiatan “mengerti”? (4) Mengapa isi kegiatan “mengerti” semacam itu? Berhubung “mengerti” itu sebuah fakta pengalaman langsung, maka pertanyaan pertama diabaikan. Karena itu studi mengenai epistemologi, tinggal menjawab pertanyaan 2-3-4 saja.

5. KODERAT PENGERTIAN (PENGETAHUAN).

a. Menjawab pertanyaan kedua (apa definisi pengertian?), pengertian sebagai pengalaman manusia tampil sebagai sebuah bangunan kegiatan-kegiatan yang kompleks yang terjadi “di dalam” diri manusia namun membawa manusia “keluar” berkontak dengan dunia tempat dia hidup. Penyelidikan mengenai pengertian seperti itu adalah kesibukan psikologi, dan justru dari psikologilah epistemologi memperoleh prinsip-prinsip dasarnya. Fundamental untuk bisa mengerti pengertian adalah fakta bahwa “mengerti” bukanlah fisik, kimiawi, atau kegiatan mekanik, melainkan kegiatan immanen yang ditemukan “di dalam” manusia sebagai mahluk hidup. Berbeda sekali dari kegiatan lain yang sesaat, kegiatan “mengerti” tersebut menyempurnakan manusia dan mengakhiri pencarian penyebab “mengerti” (=ingin tahu). Artinya, setelah “mencari tahu” menemukan jawaban, keinginan-tahu hilang. Pengertian adalah sebuah kualitas manusia (aspek “dalam”), sebuah modifikasi diri yang ditentukan oleh relasinya dengan hal lain (objek atau benda yang sudah diketahui) yang berbeda dari agen-nya (pelakunya).

b. Paradox subjek-objek menekankan aspek kemisteriusan pengertian (misteri = sekaligus sudah dikenal tetapi masih banyak juga unsurnya yang belum dikenal). Ini membuat makin rumitnya permasalahan epistemologi. Kalau pengertian sedang dipandang sebagai kegiatan intern intelek, maka perhatian sedang dipusatkan pada unsur subjektif (tentu saja dengan bahaya subjektivisme dan idealisme = menekankan idee-idee rasionil). Serentak dengan itu pengertian menuntut kita mengakui aspek “extern”-nya, karena “mengerti” berarti membuat pihak luar yang dimengerti menjadi hadir, bukan hanya di benak kita tetapi juga di hadapan kita. Maka bidang pertama riset epistemologi adalah menjelaskan hubungan subjek-objek ini (apa definisi pengertian?). Hasilnya harus sebuah kegamblangan mengenai interioritas (subjek) dan sekaligus exterioritasnya (objek) yang terhubung melalui kegiatan “mengerti” yang immanens (= hadir di dalam objek) dan berperspektif dari sudut subjek.

6. ISI KEGIATAN “MENGERTI”.

a. Bidang umum kedua dari riset epistemologi menyibukkan diri kita mau menjawab pertanyaan ketiga (apa saja isi kegiatan “mengerti”?). Persisnya, apa saja unsur-unsur kebenaran dan kebohongan (atau kepalsuan)? Kalau “mengerti”-nya memenuhi syarat tertentu, namanya benar. Kalau tidak, namanya bohong. Setiap kebenaran tidak lepas dari “dimengerti”, baik secara inderawi (extern) maupun intelektual (intern). Kebenaran lahir dari “perkawinan” kegiatan subjek yang “mengerti” dan objek yang dimengerti. Intelek ketemu objek, sifatnya “harus” dan dalam arti tertentu “built-in” dalam kegiatan “menangkap” yang tidak bisa palsu-palsuan atau mengada-ada. Namun kebenaran semacam ini meskipun dijamin secara koderati, tidak pernah sempurna, sama tidak sempurnanya seperti pengertian sendiri. Pengertian, sebagai representasi (wakil, penampilan) benda-benda, selalu menghadirkan pernik-pernik, seluk-beluk dan tètèk-bengèk.realitas, baik yang inderawi maupun yang intelektual, sehingga memungkinkan orang menangkap (dari benda) aspek-aspek rahasia dari objek (walaupun belum mensintesakannya).

b. Problem asli dan khas kebenaran adalah bagaimana menyatukan hasil-hasil pengertian di tingkat intelek. Inteligensi manusia bersusah-payah meng-integrasikan tètèk-bengèk pengertian-pengertian yang berhasil dikumpulkan nya tetapi masih tercerai-berai. Penyatuan ini dilaksanakan dengan satu atau rangkaian pertimbangan-pertimbangan. Bilamana integrasi pengertian sudah tercapai mirip-mirip mendekati realitasnya yang utuh, intelek yang aktif tak henti-henti mempertimbangkan ini akhirnya membuahkan usulan kesimpulan / keputusan / statement (pernyataan) yang benar atau mendekati kebenaran. Usulan kesimpulan yang berbeda dari keberadaan yang ada di dalam realitas adalah kepalsuan. Di dalam dua fungsi intelek (“menangkap” dan “mempertim-bangkan”) yang berbeda satu sama lain, inilah “habitat” kebenaran. Di situlah alamatnya kalau mau mencari kebenaran. Kalau fungsi “menangkap” hanyalah menghadirkan objek ke dalam benak, maka fungsi “mempertimbangkan” justru merupakan kegiatan dinamis di mana intelek tidak sekedar melaporkan keberadaan benda-benda yang dilihatnya, tetapi seraya mengambil jarak dia mengomentari mereka. Dari komentar seseorang, kita bisa mengetahui apakah pengertian orang itu mengenai sesuatu hal itu benar atau salah. Dengan demikian bidang kedua penyelidikan epistemologi bukan hanya menyelidiki unsur-unsur pengertian tetapi juga mentest sampai terbukti, kecocokan kesimpulan (keputusan) dengan realitas.

7. SELUK BELUK KEGIATAN “MENGERTI“.

a. Pertanyaan umum ketiga yang dihadapi kaum epistemologis adalah mengapa pengertian yang begitu itu kalau bukan “benar” ya “bohong” (palsu)? Atau dengan kata lain, kapan pengertian pasti benar? Selain unsur-unsurnya, apa saja syarat lainnya untuk disebut benar? Nampaknya sederhana, tetapi mencakup permasalahan yang luas dan amat sangat komplex. Permasalahan “mengapa kalau bukan benar ya bohong”, memaksa kita menyelami aslinya kebenaran itu bagaimana? Jika sesuatu hal sungguh ada, harus bisa diketemukan, lalu (tidak-bisa-tidak) harus masuk akal, artinya harus dimengerti intelek. Jadi, tidak boleh salah dan tidak bisa terlepas (mrucut) dari pengertian manusia. Manusia sendiri kalau memang manusia, harus punya alat untuk mengerti; dan alat pengertian itu harus berfungsi untuk mengerti. Tiga hal (alat untuk mengerti, kemampuan mengerti, dan objek yang harus dimengerti) semua penting untuk menyelidiki kebenaran-kebenaran selanjutnya.

b. Thomas Aquinas sangat yakin, ada prinsip-prinsip awal. Prinsip apa, itu harus diketahui. Menurut asal usulnya; objek yang ada adalah stimulus pertama, baru kemudian respons. Datangnya pertama-tama justru dari benda atau alam sekitar, bukan dari kita yang mencari kebenaran. Baru setelah itu pengertian dengan kesadaran mulai bersikap terhadap objek itu. Dari interaksi objek-subjek itu kita temukan adanya prinsip-prinsip awal. Prinsip-prinsip awal itu tidak bisa didemonstrasikan (dipertunjukkan). Dia ada begitu saja dan langsung masuk dan ditangkap oleh pengertian. Idee pertama yang nèmpèl duluan di benak kita dan kemudian menjadi bagian setiap pengertian adalah bahwa benda-benda itu ada(berada, to be, being). Atas dasar idee “dia ada” atau “tidak-ada” inilah dibangun prinsip pertama, yakni bahwa benda itu tidak bisa sekaligus ada dan tidak ada; juga, tidak bisa sekaligus diakui dan disangkal. Kalau ada ya ada. Kalau tidak ada ya tidak ada. Pada gilirannya nanti, atas prinsip pertama ini pula, didirikan prinsip-prinsip awal berikutnya. Objek yang dimengerti itu punya orde (tata keteraturan). Selanjutnya mulailah ada kepastian (=buah pertama pertimbangan yang selanjutnya kita pegang sebagai kebenaran). Jika dimengerti secara benar, pengertian mengenai prinsip-prinsip ini sifatnya tidak bisa salah. Semua pengertian harus dikembalikan pada prinsip-prinsip pertama tersebut dengan mendasarkan diri pada evidensi (kenyataan) langsung. Namun hendaknya hati-hati dan waspada, bahwa itu belumlah kata putus terakhir dari subjek (yang mengerti). Itu barulah awal dari kegiatan pencarian, bukan akhirnya.

c. Pengertian mengenai prinsip-prinsip awal tersebut masih kabur dan sangat umum, namun menjadi dasar fondasi bangunan intelektual. Kita menangkap (mengerti) ciri-ciri khas paling universal semua benda. Belum jawaban final. Baru yang umum saja yang terdapat pada semua benda, belum mengenai detail (rinci) dan spesifikasi (khusus) benda tertentu. Karena baru diperoleh sedikit penjelasan, kita tak dapat mengandalkan kebenaran-kebenaran umum itu untuk berteori macam-macam. Kita wajib terus menggalinya (explorasi) lebih dalam-rinci-spesifik. Prinsip-prinsip awal barulah titik start bagi rasio untuk meng-aplikasikannya pada benda-benda khusus. Ini tugas berat yang masih belum selesai. Sebab selalu masih ada ketidak-pastian dalam analisis terakhir.

d. Dari interaksi antara pengertian dan bahan-bahan yang disupply oleh indera, intelek menangkap prinsip-prinsip yang muncul di awal tata pengertian. Thomas Aquinas menganalisis bagaimana proses pertimbangan itu. Buah pertimbangan hanya berupa persetujuan awal intelek (keputusan tentatif) sebagai hasil pertama kegiatannya dalam mewawas realitas, yakni cara umum maupun cara khas “berada” (being) yang dimiliki tiap benda. Pertimbangan mengenai cara umum “berada” (being) berurusan dengan hal-hal yang transendental dan merupakan sumber semua prinsip dan konklusi metafisik. Sedangkan pengertian dan pertimbangan mengenai cara khasnya berurusan dengan kegiatan membeda-bedakan kategori-kategori atau aneka-macam tipe realitas. Ini menjadi sumber semua prinsip dan konklusi berikutnya mengenai ilmu-ilmu khusus.

Dengan demikian test terakhir atas benar-tidaknya pertimbangan berupa bedah analitik yang mewawas apakah pertimbangan memuat prinsip-prinsip pertama. Ini menjadi alasan Thomas Aquinas untuk mengatakan “Tak pernah ada kepalsuan atau kebohongan dalam pikiran, jikalau semua dikembalikan kepada prinsip-prinsip awal secara benar. Intelek manusia tak perlu mempelajari atau mengandaikan prinsip-prinsip awal tersebut; sebab dia sampai begitu saja secara alamiah ke situ. Pasti sampai dan langsung sampai ke situ begitu dia mengerti term-term yang membentuk pengertian”.

e. Dengan menangkap prinsip-prinsip awal, pikiran manusia mulai mencapai kebenaran dan kepastian. Dan selanjutnya terus melangkah menuju konklusi. Belum tentu prinsip-prinsip awal pasti menghasilkan kebenaran, tetapi pikiran manusia harus mengapai prinsip-prinsip awal lebih dulu sebelum menerapkannya.

Sehubungan dengan hal-hal yang kontingen (=yang sangat tergantung situasi kondisi), misalnya, dalam riset ilmu-ilmu alam: bahan-bahan material diselidiki, ditimbang, dan diukur dalam cahaya prinsip-prinsip awal, baik metafisiknya maupun kekhususannya. Applikasi prinsip-prinsip awal tersebut pada pengalaman ilmiah, menghasilkan konklusi konklusi ilmu khusus.

f. Jadi ada kebenaran minimum yang harus dipunyai tiap orang. Lalu dari situ orang dapat terus menuju pengetahuan selanjutnya mengenai kebenaran-kebenaran lain. Dengan kata lain, orang tidak hanya dapat memperoleh kebenaran, tetapi (dalam batas tertentu) niscaya mendapatkannya. Ada kebenaran-kebenaran tertentu yang tidak dapat mrucut terlepas dari seseorang. Seperti kata Thomas Aquinas : “Meskipun tak ada orang yang dapat mencapai kebenaran sempurna, namun juga sebaliknya tak ada orang yang tidak punya pengetahuan sama sekali (nol). Pengetahuan mengenai kebenaran itu mudah, dalam arti bahwa prinsip-prinsip yang langsung-jelas-nyata-terang, menuntun semua orang kepada kebenaran”.

Proses epistemologi mencakup hal-hal ini: penyelidikan proses berpikir, penyelidikan pelbagai macam tipe berpikir (analisis, sintesis, induksi, deduksi), dan akhirnya penyelidikan validitas kenyataan (evidensi) yang ditarik oleh konklusi-konklusi dari penerapan prinsip-prinsip. Banyak dari masalah tersebut hanya diselesaikan sebagian dan tidak cukup memuaskan. Dan beberapa lainnya malah tidak mencapai penyelesaian sama sekali. Inilah tugas-pekerjaan kaum epistemologis, yakni menyediakan atau melengkapi jawaban-jawaban yang kurang, dengan berpegang pada logika yang lurus, psikologi yang sehat dan metafisika yang benar.

Pustaka : EPISTEMOLOGY, New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, Washington, 1967.


Parse error: syntax error, unexpected T_ENDIF in /home/justisia/public_html/wp-content/themes/christian-sun/comments.php on line 35